Tuesday, 24 July 2018

Malaysia, let’s be more human!


Malaysia, let’s be more human!
By Cikgu Surin


Food has always been considered as one of the most exciting element when it comes to our country. Yes, the foods that bring us together despite of our differences – race, religion, belief, etc. All the cosy-never-sleep mamak’s restaurants are never run out of customer and style as well. With their well-programmed waiters who are able to settle up our bills by using their brain’s calculator and speedy mouth. The makcik who sells nasi lemak along the pavement with her beautiful daughter and a bit talkative when it comes to choosing our lauk. The Siamese hawkers preparing nasi goreng pattaya for their customers. With all these scenario in our country, we can still live together in peace. These are the little things that makes Malaysia so unique and interesting. After all, it just the matter of unity.

Recently, we, Malaysian have witnessed a tremendously-historic general election for the first time in our life. Ever. As days passed by, people are expecting something great or big from the current government. Although the government has changed and the country’s highest stakeholders have shifted, sadly - the mentality of the Malaysian still remains the same. We still throw our used tissues while driving, park our car like crazy kids – even kids are better than us, never run out of ‘ideas’ when it comes to commenting a certain issue on Facebook and not forgetting the variety of over-gestured dancing styles. Yes, Malaysia is developing so fast and surely will become one of the richest country in South East Asia. But, the Malaysian are still poor – intellectually, financially, mentally and spiritually poor. We still have lot of families living in poverty. Poverty is a state of deprivation, lacking the usual or socially acceptable amount of money or material possessions. We can see some of our children are lack of nutritious food, a very slight opportunity in receiving proper education, people are struggling to earn some money and some might even sleep along the roadside - in the city. After all these emotionally-ripped events, where did we go wrong? What is the actual problem?

If we can launch Tabung Harapan for the government, why can’t we do the same thing when it comes to helping the people in need? Those people have hungry mouths to feed and need place to live in. All hail to the big-hearted people and NGOs (Non-Government Organisations) for their passion, love, care and support in helping those in need. These are the people who are willing to sacrifice their time, family and other commitments in order to do their part in helping the community. The people that would jeopardize their life just to see some smiley faces. We have been watching their faces crinkled in bewilderment gasping for help and relentlessly hoping to survive in this challenging era.

Plus, recently, an organisation have captured our attention in the social media as they were sharing tons of pictures and videos of them – providing help to the poor. The unsung heroes from Madrasah Darus Sunnah (MADS) consists of several young lads with an enormously big heart in doing their part to help the community. It is amazing to see some of our youths can participate and keen to help the community without receiving any funds from the government. This shows that we still can do our part in helping the community without relying totally to the government. It is time for us to change and make a metamorphosis within ourselves for the sake of our country. There are no better time than now because at the end of the day, we realised that – it’s time to give back to the community. John F. Kennedy once said, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.”  Let’s change our perspective and the way we think regarding the community work. It is time for us to stop politicizing issues and start to prioritize what the country’s most important needs and hence, pump in the evergreen slogan in our veins – Keranamu Malaysia!

SAHABAT: Nikmat dalam sebuah kehidupan.



Perjalanan dalam kehidupan ini sangat singkat. Hanya kita semasa melaluinya merasakan seakan-akan panjang tempohnya. Padahal hakikatnya sekejap saja.

Kita sudah menempuh pelbagai bentuk dalam hidup ini. Suka dan duka, tangis dan tawa, silih berganti datangnya. Kadang berat untuk diterima, sukar untuk dihadam. Lalu Allah Ar-Rahim, mencipta Sahabat buat kita. Agar kita bersahabat.

Persahabatan adalah satu nikmat yang besar Allah kurniakan. Bukan semua memilikinya. Bila mana ia jatuh, bangun bersama. Ketika salah satunya jatuh, dia menghulurkan tangan agar kita naik semula. Berasa sedih bila salah satunya tidak mendapat kebaikan, seperti apa yang dia diperoleh.

Manusia ini ada masanya dia lemah, jatuh dan kalah. Dia menangis. Dia buntu. Dia sesat dalam kegelapan. Sahabat, membantu agar dia kuat, bangun dan menang semula. Memegang tangannya sama-sama mencari cahaya Tuhan. Nikmat Ilahi.
Sepotong hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim "Tidak beriman seorang daripada kamu, sehingga dia mencintai saudaranya, seperti dia mencintai dirinya"

Kisah mengenai persahabatan, tidak perlu jauh kita cari. Bacalah kisah antara Nabi Muhammad SAW bersama sahabat paling agung, Saidina Abu Bakar Radiallahuanhu. Bagaimana kasih sayang itu disemai dan disemarakkan. Perjuangan yang penuh dengan air mata dan darah, sama-sama dilalui tanpa keluh. Ketika mana manusia tidak mempercayai cerita Israk dan Mikraj Nabi SAW. Dia sudah mengimaninya. Keutuhan dalam kepercayaan yang tidak boleh kita tandingi. Sakit, pahit, getir dalam ranjau perjuangan membawa panji Islam, menyebar luaskan syiar islam di atas muka bumi ini, mereka tempuh. Sepotong ayat Al-Quran "Jangan bersedih, Sesungguhnya Allah bersama kamu" Mereka kuat, mereka tidak bersedih. Itulah sahabat agung, yang kekal sehingga ke hari akhir.

Kita mungkin tidak dapat menjadi sehebat Abu Bakar, ataupun Umar Al Khattab. Satu persepuluh  pun kita tidak ada jika dibandingkan dengan sahabat agung itu. Semoga Allah meredhai mereka. Tapi, jika tidak dapat semua, jangan tinggalkan semua. Tuluslah dalam bersahabat, berkasih-sayanglah, berinteraksi, dan hiduplah dalam persahabatan. Cara untuk mendapat sahabat, adalah dengan menjadi sahabat.

Jangan pernah kecewa dengan manusia, jika mereka tidak amanah, dan curang dengan kepercayaan kamu. Maafkanlah dan sebarkan salam. Kerana rahmat agama ini sangat luas. Kita setiap hari gagal taat sepenuhnya kepada Pencipta kita, tetapi Dia sama sekali tidak pernah meninggalkan kita. Malahan Dia sayang kepada kita yang melakukan kesalahan, lalu memohon ampun dan maaf kepada-Nya. Allah.. Rahmat dalam agama ini, sangat-sangat luas. Jangan kita sama sekali sempitkan.

Bersahabatlah. Jelajahi lah bumi yang luas ini, dan sebarkan kasih sayang. Tanamkan benih-benih kedamaian di serata tempat. Runtuhkan tembok-tembok kesombongan, ketakburan dan kezaliman dengan budi pekerti mulia. Hiduplah dengan kemuliaan akhlak dan keperibadian mulia. Kelak nanti engkau pasti akan kagum dengan hasilnya. Bagaimana anak cucu cicit kita menikmati hasil-hasil yang kita usahakan. Kedamaian dan keharmonian bertebaran di atas muka bumi ini. Masha Allah.

Semoga Allah sentiasa limpahkan rahmat dan redha-Nya kepada kita semua. Dan semoga Allah tetapkan kita untuk terus Istiqamah di atas agama ini. Amin.

TAWAKAL: Ada apa dengannya.

Tawakal

Sebahagian orang beranggapan bahawa tawakal itu hanya dengan bersikap pasrah dan redha tanpa melakukan usaha sama sekali. Sebagai contoh, kita sering kali mendengar karenah pelajar yang akan menghadapi peperiksaan pada keesokkan harinya yang mana ada sebahagian yang sibuk dengan mengulangkaji dan membuat persiapan untuk menjawab dan ada juga yang sebaliknya. Ada yang masih sibuk dengan bermain game dan hal-hal yang tidak bermanfaat lalu mereka mengatakan, ‘’esok aku menjawab dengan pasrah dan redha sahaja’’. Adakah itu benar-benar yang dimaksudkan dengan tawakal ?, Semoga penulisan ini dapat menjelaskan kepada pembaca tentang makna dan hakikat sebenar tawakal.
Tawakal berasal dari perkataan Arab ‘Wakalah’ yang bererti memilih wakil, mewakilkan atau menyerahkan urusan kepada pihak yang lain. Dalam agama Islam, ‘Tawakal’ adalah sikap seseorang Muslim yang ikhlas dan benar-benar berserah diri sepenuhnya kepada Keagungan dan Kekuasaan Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil dari sesuatu usaha, pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan. Ia akan menjurus kepada menghayati fitrah sebenar kejadiannya sebagai makhluk ciptaan Allah Yang Maha Esa, yang mana seseorang itu sentiasa menyedari dirinya mempunyai kelemahan dan kekurangan.

Kisah Burung yang berusaha dan bertawakal
Saidina Umar al-Khattab berkata bahawa Nabi SAW bersabda:
‘’Sekiranya kamu benar-benar bertawakal kepada Allah  nescaya Allah akan memberikan rezeki kepada kamu sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung di mana ia keluar dengan perut yang kosong pada waktu pagi dan kembali dengan perut yang kenyang pada waktu petang’’ (Hadis Riwayat Imam Tirmizi, disahihkan oleh Syeikh al- Albani)
Melalui hadis di atas, maka dapatlah kita ketahui bahawa Allah s.w.t yang memberikan rezeki kepada burung. Allah juga yang mengatur alam ini supaya burung sentiasa mendapat makanan. Sungguhpun begitu, Allah tidak memberi makan kepada burung itu di sarangnya.  Namun burung tadi perlu untuk keluar dari sarangnya terlebih dahulu untuk berusaha mencari makanan. Kadangkala, rezeki burung ada di tepi kolam. Kadangkala ada hari tertentu rezeki burung ada di sebalik pokok, dan ada juga hari-hari lain rezeki burung berada jauh nun di atas bukit dan gunung. Walaupun ada kalanya rezekinya kelihatan sukar, namun jarang sekali ia pulang dengan tangan kosong.
Di samping itu, kita boleh mengambil pengajaran untuk diri kita supaya berusaha seperti burung. Kadang-kadang kita berasa runsing dan berputus asa dengan kehidupan seharian kita yang penuh dengan ujian yang datang tanpa dijemput dan diundang. Sedangkan kita mempunyai Tuhan yang maha berkuasa yang mana jika Allah ingin memberikan sesuatu kepada kita, maka tiada siapa yang boleh menghalang. Jika Allah ingin menghalang sesuatu, maka tiada siapa yang boleh memberi. Jadi, apa yang perlu kita risaukan ? Setelah kita sudah berusaha dengan bersungguh-sungguh, maka bertawakallah kepada Allah.
Tuntasnya, tawakal akan mewujudkan keajaiban dalam hidup seseorang insan. Tawakal adalah perkara yang sangat besar dalam aqidah sesorang muslim untuk mempercayai dan menyakini bahawa Allah yang mengurus seluruh alam dan yang menentukan segalanya. Allah telah berjanji sesiapa yang bertawakal kepadaNya maka Allah akan cukupkan keperluan untuknya seperti mana Allah berfirman dalam surah At-Talaq ayat 3:
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”



Justeru, Allah juga mencintai dan menyayangi orang-orang yang bertawakal kepadaNya seperti mana Allah sebutkan dalam surah al-Imran ayat 159. Maka dengan itu marilah kita sama-sama mengamalkan ‘’tawakal’’ dengan hakikat yang sebenar dalam kehidupan kita. Semoga dengan itu Allah merahmati dan memasukkan kita ke dalam SyurgaNya.

Monday, 23 July 2018

MASA: Penentu Untung Dan Rugi Manusia..


Pengurusan Masa: Penentu Untung Dan Rugi Manusia


Oleh: CIKGU ISKANDAR ZULFAQAR

Kita sering mendengar dalam ceramah-ceramah motivasi tentang perihal kepentingan memanfaatkan masa dengan baik. Namun, apakah kita sedar bahawa untung dan juga rugi hidup kita di dunia ini sebenarnya bergantung kepada cara kita menguruskan masa.

Mana tidaknya, jika seseorang itu menguruskan masanya dengan baik seperti melakukan ibadat kepada Allah dan juga melakukan perkara-perkara yang berfaedah, semestinya dia merupakan seorang yang beruntung kerana dia bakal memperoleh manfaat daripada masa yang digunakannya untuk kebaikan itu.

Berbeza pula dengan seseorang yang menggunakan masa untuk perkara-perkara yang tidak berfaedah contohnya seperti melepak atau bersembang perkara-perkara yang sia-sia, merokok dan sebagainya. Bagi insan-insan seperti ini, masa yang mereka miliki itu tidak akan memberi manfaat langsung kepada mereka. Jadi, mereka telah rugi sebenarnya kerana tidak memperoleh sebarang kebaikan daripada masa yang mereka miliki.

Dalam Islam juga telah ditekankan betapa pentingnya untuk kita menggunakan masa dengan betul. Allah S.W.T telah berfirman dalam Surah Al-Asr ayat 1 hingga 3 sebagai panduan jelas kepada umat manusia untuk memanfaatkan masa dengan baik.

وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2) Melainkan orang-orang yang beriman dan yang beramal soleh serta nasihat-menasihati ke arah kesabaran (3) (Surah Al Asr Ayat 1-3)

Dalam ayat ini, Allah telah pun menjelaskan kepada manusia bahawa betapa ruginya jika tidak memanfaatkan masa dengan betul. Seseorang itu sebenarnya berada dalam kerugian kecualilah jika dia beribadat, beramal dan juga melakukan perkara-perkara kebaikan.

Allah Maha Adil. Allah telah mengurniakan masa yang sama kepada setiap manusia itu tidak kira tua atau muda dan tidak kira apa-apa agama serta kaumnya. Setiap manusia di bumi ini telah dibekalkan 24 jam satu hari. Tidak ada yang mendapat lebih ataupun kurang daripada itu.

Cuma, untuk mengenalpasti seseorang itu rugi atau untung adalah caranya menguruskan masa tersebut. Adakah dia rugi (yakni menggunakan masa untuk perkara yang sia-sia) ataupun adakah dia untung (yakni memanfaatkan masa untuk ibadat serta perkara-perkara yang baik)?

Perkara ini boleh diibaratkan seperti dua orang peniaga diberikan sejumlah wang yang sama sebagai modal. Sebagai contoh kedua-dua peniaga A dan B mendapat bantuan modal RM500 setiap seorang. Kemudian, kedua-dua peniaga diberi kebebasan untuk menguruskan bantuan ini sama ada dengan baik ataupun sebaliknya.

Peniaga A bertindak bijak dengan mengembangkan perniagaannya menggunakan modal tersebut. Banyak barang yang berjaya dijual. Keuntungannya bertambah! Manakala peniaga B pula hanya menggunakan RM500 itu untuk menyara hidupnya. Duit itu akhirnya habis dan perniagaannya juga tidak menampakkan keuntungan. Jadi, peniaga B telah mengalami kerugian.

Begitulah juga dengan masa. Setiap hari kita memiliki 24 jam. Pastikan masa 24 jam itu kita penuhi dengan perkara-perkara yang bermanfaat serta pada akhirnya dapat memberi keuntungan kepada kita.

Tuntasnya, masa adalah anugerah yang sangat berharga kepada kita dan kita sendirilah yang menentukan sama ada diri kita ini berada dalam kerugian ataupun keuntungan.

Saya ingin sekali mengambil kesempatan ini untuk mengajak anda dan diri saya sendiri supaya memanfaatkan masa dengan baik agar kita semua tergolong dalam golongan manusia yang beruntung di muka bumi ini.



Saturday, 7 July 2018

PENTINGNYA AKHLAK DALAM DIRI SETIAP MUSLIM


Pentingnya Akhlak Dalam Diri Setiap Muslim



Oleh: CIKGU ISKANDAR ZULFAQAR

Seringkali kita dengar ungkapan Islam itu indah! Namun, sedarkah kita apa yang menyebabkan Islam itu indah? Tidak lain dan tidak bukan perkara yang mengindahkan agama Islam ini adalah setiap selok-belok ajarannya.

Allah S.W.T telah menetapkan peraturan-peraturan yang wajib dipatuhi oleh setiap muslimin dan muslimat. Tujuannya adalah bagi memastikan kesejahteraan di alam ini sentiasa terjaga. Barangsiapa yang bertindak mengikari peraturan ini nescaya dia telah menzalimi dirinya sendiri.

Antara perkara yang sangat dititikberatkan dalam Islam adalah akhlak. Akhlak merupakan tingkah laku serta sikap setiap manusia tidak kira sama ada di hadapan khalayak ataupun tidak. Akhlaklah yang bakal mencerminkan peribadi seseorang itu, sama ada seseorang itu muslim yang baik atau tidak, sama ada seseorang itu pendakwah yang baik atau tidak dan sama ada seseorang itu mukminin atau munafik.

Setiap manusia perlu menjaga akhlak terutama sekali kita yang telah dikurniakan anugerah Islam. Tidak ada gunanya kita mengaku melakukan seluruh perintah Allah serta mengajak manusia melakukan kebaikan sedangkan akhlak kita berada di paras yang sangat tidak memberangsangkan.

Persoalan tentang akhlak sebenarnya sudah banyak dibincangkan di mana-mana ceramah agama akan tetapi sejauh mana ia memberi kesan kepada diri anda? memanglah bagus kita mendengar perkara-perkara baik yang disampaikan oleh penceramah tetapi amat merugikan jika kita tidak mampu untuk mempraktikkannya dalam hidup.

Dalam artikel ini, saya akan membincangkan serta mengupas lebih lanjut berkaitan akhlak. Perbincangan akan dibahagikan kepada tiga skop akhlak iaitu akhlak dalam tutur kata, akhlak dalam tingkah laku serta akhlak dalam berdakwah. Ketiga-tiga aspek ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan seharian kita.

Setiap hari dalam kehidupan, kita semestinya dinasihati untuk menjaga dua perkara ini iaitu percakapan atau tutur kata serta tingkah laku. Bagi skop dakwah pula, setiap daripada kita sebenarnya memiliki tanggungjawab besar dalam menyampaikan dakwah tidak kiralah kepada orang Islam mahupun orang bukan Islam. Jadi, dalam kesemua perkara ini, akhlak haruslah diletakkan sebagai perkara yang sangat penting.

1.) AKHLAK DALAM TUTUR KATA

Setiap hari, kita akan berkomunikasi dengan orang lain, tidak kiralah sama ada dengan ahli keluarga kita sendiri mahupun orang lain. Dalam komunikasi ini, akhlak dalam bertutur kata haruslah dijaga demi memastikan pihak yang berkomunikasi dengan kita itu tidak terasa hati di samping sedikit-sebanyak dapat menyenangkan pihak tersebut.

Terdapat pepatah Melayu yang berbunyi kerana mulut badan binasa. Melalui pepatah ini dapatlah kita ambil iktibar bahawa sangat penting untuk menjaga akhlak dalam tutur kata ini. Jika tiadanya akhlak ketika bertutur kata, kita seolah-olah mengundang bencana kepada diri sendiri.

Sebagai contoh, seseorang itu sering merendahkan martabat orang lain yang berkomunikasi dengannya. Saban hari dia mencerca serta menghina orang tersebut. Sehinggalah suatu hari, si polan itu ditimpa masalah.

Dia buntu kerana tiada sesiapa yang boleh dimintanya bantuan. Satu-satunya orang yang ada dan mungkin boleh menghulurkan bantuan kepadanya hanyalah orang yang selalu dihina dan dicacinya itu. Sudah semestinya akan berat hati orang itu untuk menolong si polan tersebut kerana dia selalu dihina.

Tiadanya akhlak dalam tutur kata juga boleh menyebabkan putusnya silaturrahim sesama umat Islam. Bahkan juga sesama keluarga. Pelbagai situasi boleh kita lihat pada hari ini tentang putusnya ikatan kekeluargaan kerana tiada akhlak dalam tutur kata.

Sebagai contoh, si polan tidak berpuas hati dengan adiknya yang tidak mahu bekerja malah tinggal bersamanya dan si polan juga terpaksa menanggung makan dan minum adiknya itu.

Si polan berasa marah lalu memaki hamun adiknya itu. Adiknya terasa hati dan pergi meninggalkan rumah si polan serta tidak lagi bertegur sapa dengan si polan. Dengan itu, maka terputuslah hubungan kekeluargaan mereka hanya kerana tutur kata si polan yang tidak berakhlak.

Selain itu, terdapat juga golongan cerdik pandai yang berpendapat bahawa peribadi seseorang itu terletak pada tutur katanya. Jika tutur kata seseorang itu dipenuhi dengan kata-kata kesat dan carutan setiap hari maka peribadinya juga kurang baik.

Oleh yang demikian, marilah kita sama-sama menjaga akhlak dalam berututur kata. Ucapkanlah kata-kata yang baik dan mampu menyedapkan hati seseorang. Jauhi kata-kata kesat serta kasar yang boleh menyakitkan orang lain.

2.) AKHLAK DALAM TINGKAH LAKU

Selain tutur kata, setiap manusia tidak akan terlepas daripada menjaga tingkah lakunya setiap hari. Tingkah laku kita akan dinilai oleh individu lain sama ada secara baik mahupun sebaliknya. Oleh yang demikian, adalah penting untuk menjaga tingkah laku pada setiap masa dan di mana jua kita berada.

islam telah menggariskan beberapa panduan berkaitan akhlak dalam tingkah laku ini. Tingkah laku yang tidak baik bakal menjejaskan maruah diri sendiri bahkan keluarga juga. Sebagai contoh, si polan sering dipenjarakan kerana terlibat dengan pelbagai kes jenayah.

Kesan daripada tingkah laku si polan yang tidak baik itu bukan sahaja diterima olehnya tetapi juga kedua-dua ibu bapanya. Orang ramai akan berkata Oh yang masuk penjara itu anak Si A inilah! Melalui kata-kata seperti itu, insan yang tidak berdosa turut mendapat nama hanya kerana si polan tidak menjaga akhlak dalam tingkah lakunya.

Tingkah laku yang beradab amat perlu terutama sekali ketika berada bersama orang lain. Amat biadap jika tidak menjaga akhlak dalam tingkah laku ketika ini. Perbuatan itu bukan sahaja akan menjadi buah mulut orang lain tetapi juga bakal menjatuhkan maruah sendiri.

Akhlak dalam tingkah laku amatlah penting untuk dijaga terutama sekali oleh golongan yang berpengaruh kerana tingkah laku mereka akan menjadi ikutan orang ramai. Mengambil contoh mudah seperti seorang guru. Guru merupakan seorang insan yang sangat berpengaruh dan tingkah lakunya akan menjadi ikutan anak-anak muridnya.

Amat menyedihkan kita pada hari ini adalah kemunculan trend terbaru iaitu anak-anak gadis merakam aksi mereka sedang menari sambil ditemani muzik latar dan yang paling popular ketika ini adalah lagu bertajuk Syantik. Sayang sekali apabila ramai anak-anak gadis beragama Islam malah ada juga yang bertudung tetapi mengikut trend tidak sihat ini.

Lebih menyedihkan apabila terdapat juga guru yang mengikut trend ini. Budaya ini sebenarnya akan menjadi ikutan anak-anak murid guru tersebut. Jangan salahkan sesiapa jika suatu hari nanti tingkah laku anak-anak murid tersebut sangat teruk kerana salah itu datang daripada diri kita sendiri.

3.) AKHLAK DALAM BERDAKWAH

Sebaik-baik dakwah adalah berdakwah secara berhikmah. Hal ini bermaksud dakwah yang ingin disampaikan itu haruslah secara lembut dan mengambil kira semua aspek. Letakkan akhlak sebagai yang tertinggi ketika berdakwah.

Jangan berdakwah secara rigid iaitu secara keras dan kasar. Contohnya mudah sahaja. Jika pendakwah terserempak dengan seseorang yang sedang melakukan dosa, pendakwah itu perlulah menasihati insan tersebut dengan baik dan bukannya menghukum insan itu. Tanamkan dalam diri bahawa hanya Allah sahaja yang layak menghukum.

Menunjukkan akhlak yang baik bakal menyebabkan dakwah yang kita sampaikan itu mudah diterima. Tunjukkan bahawa pendakwah itu berakhlak dan bukan sekadar menasihati insan lain supaya berakhlak.

Sebagai contoh, daripada pendakwah itu mengajak orang lain melakukan kebaikan, adalah lebih baik baginya untuk melakukan kebaikan terlebih dahulu. Perbuatannya itu akan menjadi contoh dan ikutan orang lain.

Begitulah pentingnya akhlak yang perlu dijaga sebagai seorang Muslim. Akhlak yang baik menunjukkan peribadi yang baik. Semoga dengan perkongsian ini dapatlah kita mengambil iktibar daripadanya.

Wednesday, 4 July 2018

MADS: Sebuah Perjuangan Dakwah Tanpa Habuan


MADS: Sebuah Perjuangan Dakwah Tanpa Habuan


Oleh: CIKGU ISKANDAR ZULFAQAR

Keikhlasan datangnya daripada hati yang murni dalam apa kerja sekali pun yang dibuat. Takrif kepada ikhlas adalah menjalankan sesuatu perkara tanpa mengharapkan apa-apa balasan. Keikhlasan penting dalam membentuk diri yang positif di samping menyucikan jiwa.

Allah S.W.T telah berfirman dalam surah Al-Araf ayat 29:

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Mafhumnya: Katakanlah, Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan dan (katakanlah) Luruskanlah muka diri mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya.)

Berdasarkan firman Allah dalam ayat ini jelaslah kepada kita betapa pentingnya mengamalkan keikhlasan dalam setiap apa jua amalan yang dilakukan. Namun, persoalannya apa pula kaitan keikhlasan dengan dakwah?

Perjuangan dakwah sememangnya sesuatu yang sangat dituntut dalam Islam. Dakwah terbahagi kepada pelbagai bentuk bukan sahaja dengan cara tabligh yakni menyampaikan, bermakna seseorang pendakwah itu turun ke kampung-kampung ataupun kawasan-kawasan dengan tujuan menyampaikan perutusan dakwah.

Dakwah juga terjadi apabila seseorang itu menunjukkan akhlak yang baik di khalayak. Setiap yang melihatnya akan tersentuh dengan kebaikan yang dilakukannya serta mengikuti amalan baik itu, perkara itu juga merupakan dakwah secara tidak sedar.

Sebagai contoh, seseorang itu ternampak sampah kecil di antara khalayak ramai. Lalu, si polan segera menghampiri sampah tersebut dan mengutipnya lalu membuangnya ke dalam tong sampah. Daripada ramai yang melihat perbuatan itu, mungkin sesetengahnya akan tersentuh hati serta menjadikan amalan baik itu sebagai ikutan. Maka itu adalah dakwah walaupun si polan sebenarnya tidak menyedari perbuatannya itu diperhatikan.

Dakwah merupakan tanggungjawab semua umat Islam di muka bumi ini. Tidak ada yang terkecuali jika memenuhi syarat akal yang sempurna, berkemampuan dan sebagainya.

Allah S.W.T berfirman tentang dakwah dalam surah Al Fussilat ayat 33:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Mafhumnya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Memahami akan kepentingan dakwah, beberapa orang insan yang telah menyedari tanggungjawab mereka dalam menegakkan agama Allah telah terpanggil untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dakwah.


Di sebuah pulau jauh di pedalaman yang terletak di Negeri Di Bawah Bayu, sekumpulan individu ini telah bertungkus-lumus, serta membanting keringat dalam mewujudkan sebuah madrasah sebagai medan mereka menyebarkan dakwah.

Berbekalkan wang ringgit sendiri serta semangat yang tinggi, usaha murni mereka ini dibalas oleh Allah S.W.T. Sebuah madrasah yang menjadi medan dakwah di Pulau Jambongan akhirnya berdiri teguh hingga ke hari ini.

Bukan sahaja tersergam indah dipandang mata tetapi juga penuh dengan pelbagai program keagamaan, bantuan kebajikan serta program-program berkaitan dakwah dijalankan oleh madrasah ini. Program-program ini bukan sahaja mampu meluaskan lagi syiar Islam tetapi juga mampu mengeratkan silaturrahim antara penduduk-penduduk sekitar ini.

Program paling popular yang diadakan setiap tahun di madrasah ini adalah Perkampungan Sunnah. Sebuah program yang padat dengan pengisian agama bukan sahaja untuk warga yang telah berumur tetapi juga untuk kanak-kanak seperti pertandingan azan dan sebagainya.

Alhamdulilah segala perit pengorbanan dalam usaha menubuhkan Madrasah ini akhirnya membuahkan hasil apabila madrasah ini berdiri tegak di bumi Sandakan pada hari ini serta tidak sunyi daripada majlis-majlis ilmu dan program-program.

Akan tetapi, juraian air mata tetap berguguran mengenangkan perjuangan individu-individu yang telah banyak berkorban demi melahirkan sebuah madrasah yang menjadi medan dakwah buat seluruh warga di sini.

Bukan sahaja wang ringgit mereka dihabiskan malah mereka tanpa segan silu terpaksa meminta infaq daripada orang ramai. Tenaga dan masa terpaksa dikorbankan. Keluarga di rumah juga terpaksa berjauhan untuk mencari dana dan bantuan. Semua ini bukanlah untuk kepentingan mereka tetapi demi memastikan syiar Islam terus bersinar.

Semoga Allah mengurniakan keikhlasan dalam jantung hati mereka. Satu sen pun daripada keuntungan yang diperoleh hasil daripada sedekah serta infaq orang ramai tidak mereka sentuh malah wang mereka sendiri turut dikorbankan. Semuanya kerana Allah, kerana ingin melihat agama Allah tersebar dan kerana ingin mendapat rahmat dan berkat Allah dalam menjalankan aktiviti dakwah ini.

Bukan setakat itu sahaja. Setelah Madrasah ini berjaya dibina juga, mereka masih lagi mengorbankan wang ringgit serta tenaga dalam usaha mereka menyebarkan bantuan kebajikan dan dakwah. Terbaru, ketika misi kemanusiaan di Kampung Sampah yang lalu, mereka berusaha mencari dana daripada luar serta tenaga mereka korbankan demi melihat warga kampung itu merasai nikmatnya rezeki Allah di muka bumi ini.

Tahniah dan syabas buat semua individu tersebut yang telah banyak berkorban demi memastikan Madrasah Darus Sunnah (MADS) Pulau Jambongan terbina dan menjadi medan dalam usaha dakwah yang giat dijalankan khususnya di Pulau Jambongan dan Sandakan.

Semoga mereka ikhlas dan telah pun menunjukkan keikhlasan dalam memperjuangkan dakwah di jalan Allah. Begitu juga dengan kita. Kita juga wajarlah ikhlas dalam apa jua perkara. Jika kita tidak mampu berkorban dan mengikhlaskan hati seperti mereka, sedikit keikhlasan hati juga sudah memadai. Paling tidak yang boleh kita lakukan adalah bersedekah dan mengikhlaskan sedekah tersebut.

Semoga Allah merahmati segala usaha individu-individu ini yang ikhlas berjuang demi agama Islam rahmatan lil alamin ini. Didoakan juga semoga Madrasah Darus Sunnah tetap teguh berdiri demi menjadi wadah kepada perjuangan menyebar luaskan dakwah Islam.

Sungguh usaha individu-individu ini dalam berjuang menyebarkan dakwah tidak langsung memperoleh habuan dunia tetapi yakinlah, di akhirat kelak, Allah pasti akan membalas keikhlasan dengan pembalasan yang baik.

(Nukilan artikel ini adalah khas untuk semua individu yang telah berjuang dalam pembinaan MADS.)


Sunday, 1 July 2018

''DAKWAH ITU SIAPA.."




Setiap daripada kita akan merasai perkara yang sama pada hari ini. Melalui pagi yang sama, melihat matahari yang sama serta menghirup udara yang sama. Namun, apa yang berbeza adalah cara kita berhadapan dengan semua perkara ini. Sebagai contoh ‘pagi' seorang guru tidak dimanfaatkan sama seperti ‘pagi’ seorang nelayan. Adalah berbeza juga bangun seorang pelajar berbanding bangun seorang pesawah. Kita masing-masing mempunyai jalan hidup sendiri.

Begitu juga dengan Islam yang kita anuti. Agama yang kita warisi mungkin sama, akan tetapi cara kita mengamalkan agama, belum tentu sama. Seorang pendakwah bukanlah seperti pelakon yang hanya menghafal bait-bait dialog lalu diungkap tanpa beriman dengannya. Pendakwah juga bukanlah seorang penyanyi yang melantunkan lirik dengan mendayu tanpa dia bermuhasabah dengan apa yang dinyanyikan itu.

Kerja menjalankan dakwah merupakan tugas para Anbiya’. Pelbagai kesukaran telah mereka lalui sepanjang mereka menjalankan tugas ini. Mereka tidaklah dibentangkan gulungan karpet merah serta disirami bunga melur, akan tetapi ranjau yang mereka lalui semasa dakwah hanyalah bertemankan air mata dan darah.

Mungkin segelintir manusia pada hari ini merasa mahsyur dengan dakwah. Nama mereka dikenali semua, wajah mereka ditatap umum, poket mereka tidak kering dengan dakwah dan perut mereka juga buncit dengan dakwah. Hal ini sehingga menyebabkan mereka alpa dan mata mereka mulai kabur dengan habuan dunia kerana dakwah.

Walhal para anbiya’ melaluinya dengan penuh keperitan. Betapa sukar dan beratnya untuk menyampaikan dakwah kerana ilmu ini akan dibawa dan diwarisi oleh setiap generasi, orang yang beramanah terhadapnya. Mereka membersihkan ilmu daripada penyelewengan orang-orang yang melampau, tokok tambah daripada orang yang jahil terhadapnya, yakni agama. Para anbiya’ menitiskan air mata di atas jalan ini.

Sedangkan kita pada hari ini mengambil kesempatan melalui tanggungjawab berat ini. Kita sewenangnya mencari keselesaan dunia di atas jalan para anbiya’ ini. Kita mencari idea untuk membuat manusia tertawa serta mencari jalan bagaimana memperoleh habuan daripada dakwah yang dijalankan. Lalu mendakwa “kamilah orang yang mengerjakan dakwah?”

Dakwah adalah kerja para nabi dan di atas jalan yang mulia ini, kita merasa tidak layak untuk berdiri di atasnya. Cukuplah sekadar menumpang sekaki di jalan dakwah ini. Ayuhlah berdoa supaya Allah menetapkan keikhlasan kita dalam menjalankan tanggungjawab dakwah yang mulia ini. Amin!